Page 58 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 58
JEJAK PERSAHABATAN
Nurul Haniza Samsudin
Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya
Di lorong waktu yang sering berubah arah,
Kita pernah berjalan seiring sejalan,
Mengutip air mata yang tumpah dari langit,
Menyimpan tawa dalam poket kenangan,
Seperti harta yang kita tak pernah sangka,
Yang akan menjadi begitu berharga.
Kamu hadir bukan sebagai bayang,
Tetapi sebagai langkah yang memahami ritma hatiku,
Dalam riuh dunia yang jarang berhenti,
Kamu adalah jeda dan melodi yang menenangkan,
Tempatku melepaskan lelah dan gundah,
Tanpa patah kata yang berjela.
Kita pernah menjadi dua insan,
Yang percaya dunia ini boleh dilentur mudah,
Dengan bualan-bualan kecil di tepi senja,
Tentang cita-cita yang terlalu tinggi,
Tentang luka lama yang kita cuba sembunyi,
Tentang mimpi yang kita sulam dan anyam,
Walau seribu kali luka ini berdarah,
Kamu masih di sini setia menemani.
Namun perjalanan hidup selalunya aneh,
Ada simpang yang memisahkan,
Ada hujan yang melunturkan jejak,
Ada angin yang bertiup ke arah kita,
Namun, hati ini masih ingin berpaut,
Pada tali persahabatan yang pernah begitu kukuh.
Kini, jika aku menoleh ke belakang,
Aku melihat kita dalam bentuk yang lebih sederhana,
Dua jiwa yang pernah berbaik sangka
Dan bahawa persahabatan itu tidak akan berubah.
Meski jarak menghampar seperti padang luas,
Aku masih menyimpan suara kamu di suatu sudut sepi
yang tidak disentuh waktu,
Aku masih mengingati bagaimana kita sama-sama
belajar menjadi insan,
Untuk menjadikan beban dunia ini lebih ringan digalas.
Meski jarak dan masa memisahkan,
Namun, kasih sayang kita tidak pernah hilang,
Seumpama bintang jauh yang tidak selalu kelihatan,
Namun, sirnanya tetap ada menerangi malam yang
gelita.
Persahabatan ini,
Walau tidak sempurna,
Walau tidak selalu dekat,
Tetap menjadi doa,
Yang aku titipkan perlahan,
Di antara hela nafas dan perjalanan.
58

