Page 44 - CEREKA_APM_Jan_Apr2025
P. 44

LANTERA DI UFUK JIWAKU
                                 Tengku Intan Marlina Tengku Mohd Ali
                         Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur





                             Perjalanan menyusuri lorong waktu,
                             mengorak langkah di atas pasir takdir,
                             memburu bayangan yang tak hilang di ufuk jiwa,
                             mencari jejak yang tak pernah padam,
                             satu nama yang terukir indah di lembaran zaman,
                             nama yang sebati dalam jiwaku,
                             nama yang mengalir dalam darahku,
                             bagai denai yang tak pernah kering,

                             menyusur ke muara hati penuh rindu.


                             Terdengar bisikan bayu menyentuh lembut,
                             di antara dahan-dahan berona emas gurun,
                             menitip pesanan dari zaman silam,
                             sosok Khatamun Nabiyyin nan agung,
                             nur wajahnya bak rembulan bercahaya,
                             bicaranya seindah bait-bait syair di langit.



                             Di sebalik mentari yang menyentuh malam,
                             langkahnya ialah cahaya yang menerangi di lorong gelita,
                             suaranya menghidupkan hati-hati yang layu,
                             senyumannya ialah rembesan hujan di bumi gersang,
                             aku hanyalah setitis embun di hujung daun,
                             ingin mengalir ke samudera kasihmu.


                             Kusandarkan rinduku pada angin lalu,
                             biarkan ia menyelinap ke jendela Raudah,
                             biarkan ia berdesir di ruang suci mihrabmu,
                             agar getar rinduku sampai kepadamu.

                             dan jika aku terpisah oleh ruang dan waktu,
                             izinkan rinduku melangkaui sempadan,
                             moga di suatu fajar yang belum bertamu,
                             aku dapat melihat wajah dambaanku.


                             Wahai Sayyidul Anbiya' yang tak pernah kutatap,
                             namamu tetap terukir di nadi jiwaku,
                             walau aku hanya berkelana tanpa jejak di hamparan waktu,
                             walau aku hanya debu yang menempel di kaki zaman,

                             asalkan ketika di padang pengakhiran tanpa bayang,
                             aku dapat mereguk cinta dari bening kasihmu,
                             tangannya menyambut tanganku yang penuh dosa,
                             sesungguhnya rinduku ini tak pernah pudar,
                             bagai bintang yang setia pada malam,
                             bagai mentari yang setia pada siang,
                             bagai angin yang merintih di cerun gurun,
                             diriku hanyalah perindu yang menanti waktu,
                             menanti detik pertemuan dengan cahaya jiwa,
                             dalam nurani kasihmu di mahligai cinta,
                             menjadi lantera di ufuk jiwaku,

                             berlabuh di pantai keabadian selamanya,
                                                                                                  44
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48