Page 12 - CEREKA_APM_Jan_Apr2025
P. 12
Izinkan Aku Berpaling Darimu: Asep Yudha Wirajaya (Sambungan 3)
“Ya, mulai sekarang Anda saya percaya memegang tanggung jawab keuangan
di sini. Terus terang saya memilih Anda karena jilbab Anda. Posisi seorang
finance dituntut kejujuran, ketegasan dan ketelitian. Saya berharap orang-orang
seperti Anda mampu mempertahankan kejujuran dan idealisme dalam bekerja.
Banyak orang tergelincir ketika berurusan dengan uang. Karena itu saya ingin
Anda tidak menyia-nyiakan kepercayaan saya. Ingat Anda mempertaruhkan
jilbab Anda untuk bekerja di sini, pimpinan itu berkata panjang lebar dengan
penuh wibawa.
Aku semakin larut dengan keherananku. Aku yakin ini benar-benar datang dari
Allah. Dia-lah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati makhluknya.
Alhamdulillah…..alhamdulillah hanya itu yang mampu kugumamkan.
Mulai saat itu aku yang dipercaya memegang tanggung jawab keuangan. Pada
awalnya memang terasa berat. Bayangkan perusahaan ini telah beromzet dua
milyar per bulan. Tentu bukan hal yang mudah untuk menyesuaikan diri
menghadapi perputaran uang yang begitu banyak tiap harinya. Aku bekerja
seorang diri menangani keluar masuknya uang di perusahaan ini. Hanya untuk
pengeluaran yang cukup besar aku harus konsultasi dengan atasanku, yaitu
seorang manager keuangan merangkap akuntan.
Tahun demi tahun telah kulalui. Oleh pimpinanku aku dinilai bekerja sangat baik
dan mampu menjaga keuangan perusahaan. Karena itulah aku sering
mendapat kenaikan gaji di luar jadwal kenaikan gaji berkala. Kata pimpinanku,
aku dinilai jujur dan di jaman seperti ini sulit mencari orang jujur seperti aku. Aku
tak tahu ini pujian atau justru ujian dari Allah. Memang beberapa kali, aku
berhasil mengungkap nota-nota palsu yang diajukan beberapa karyawan
dengan harapan memperoleh tambahan penghasilan. Aku pernah juga
menggagalkan upaya pembelian dengan giro kosong. Saat itu ada otlet yang
berniat membeli obat-obatan senilai hampir 300 juta, dengan giro tempo dua
minggu. Tentu saja hal ini sangat membuat girang salesman otlet tersebut.
Terbayang sudah berapa insentif yang bakal diterimanya. Namun aku sempat
curiga. Yang kutahu kemampuan otlet tersebut membeli obat-obatan di
perusahaan ini dalam satu bulan saja tidak lebih dari lima puluh juta. Pasti ada
yang tidak beres, pikirku. Aku segera menelpon perusahaan disributor farmasi
lainnya, aku tanyakan bagaimana kondisi otlet tersebut menurut mereka.
Ternyata dari mereka aku tahu bahwa perusahaan itu hampir bangkrut. Aku
juga sempat menelpon bank yang tertera di giro milik oulet tersebut. Untung,
karena pihak bank mempunyai hubungan baik dengan perusahaanku, pihak
bank mau memberitahukan bahwa dana outlet tersebut di bank sangat minim,
jadi kalau outlet tersebut mengeluarkan giro hanyalah berupa giro kosong
belaka. Segera aku memberitahukan hal ini pada pimpinanku dan pembelian
outlet itu pun dibatalkan. Pimpinan perusahaan sangat berterima kasih atas
ketegasan dan ketelitianku. Namun di sisi lain aku justru menerima cacian dari
rekan salesmanku.
12

