Page 11 - CEREKA_APM_Jan_Apr2025
P. 11
Izinkan Aku Berpaling Darimu: Asep Yudha Wirajaya (sambungan 2)
“Berapa lama seseorang berjilbab bagi saya tidak masalah. Yang
penting orang tersebut telah menemukan keyakinan untuk
menjalankan agamanya sepenuh hati, dan tak keraguan untuk
menjalani apa yang diyakininya, “ jawabku sedikit berdiplomasi. Dari
buku-buku yang pernah kubaca ketika wawancara harus bisa
diplomasi agar dinilai lebih.
“Tapi setelah berjilbab apa benar telah menjamin bahwa pemakainya
itu orang baik-baik, jujur dan tingkah lakunya tidak menyimpang?”,
tanya pimpinan itu lebih lanjut.
“Kalau toh ada orang berjilbab yang kelakuannya masih buruk, tolong
jangan salahkan jilbabnya. Barang kali orang tersebut belum mampu
menata langkahnya untuk selalu di jalan kebenaran. Justru dengan
berjilbab menuntun kita untuk selalu malu kepada Allah. Kita tahu
bahwa Tuhan selalu menatap kita. Karena itulah kita harus malu
pada Allah karena kita melalaikan tuntunannya untuk selalu berbuat
baik, untuk diri kita maupun orang lain”, jawabku. Aku kian tak
mengerti mengapa wawancara ini makin menjurus ke dialog
keagamaan. Aku harus makin hati-hati. Siapa tahu ini jebakan,
pikirku saat itu. Memang ada pikiran negatif sempat terlintas.
“Menurut Anda, mampukah Anda mengatakan bahwa Anda orang
yang jujur?” tanya pimpinan itu seolah menyelidik.
“Maaf, Pak. Saya tidak akan berkoar-koar kalau saya orang jujur,
sebaliknya orang pun justru akan semakin diam untuk
menyembunyikan ketidakjujurannya. Sebenarnya ada cara mudah
namun bagi sebagian orang justru terabaikan. Satu yang harus kita
pegang, sekecil apa pun yang kita perbuat di dunia ini kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Saya yakin kalau orang itu
masih mempunyai nurani, masih ada sesuatu yang mampu
menahannya untuk tidak berbuat buruk, jawabku lebih lanjut.
“Anda tidak berani mengatakan dengan terus terang bahwa Anda
orang yang jujur, apakah boleh saya menyimpulkan bahwa Anda
termasuk orang yang tidak jujur?, tanya pimpinan itu tajam
“Yang berhak menilai seseorang hanyalah Tuhan semata, karena
Dialah tokoh penilai yang seadil-adilnya. Kejujuran saya tidak bisa
dinilai dari mulut manis saya semata, tapi terletak dari bagaimana
saya menyikapi tanggung jawab yang dibebankan pada saya.” jawab
saya perlahan. Saya makin tidak mengerti mengapa ia megajukan
pertanyaan seperti itu.
“Baiklah, sedikit banyak saya mulai mengerti sifat-sifat karyawan
baru saya.” Pimpinan itu berbicara dengan intonasi yang berbeda
seraya menatapku yang masih termangu keheranan
“Maksud, Bapak?”, tanyaku pelan. Aku tak berani berharap diterima.
11

