Page 9 - CEREKA_APM_Jan_Apr2025
P. 9
Gemerincing dari Langit Jauh: Mawar Safei (sambungan 4)
“Kepatuhan itu perlu selalu ada di sini,” tapak tangan Aliabbas melekap
ke dada saku kemejanya yang ada sisa lelehan merah gelap mulberi.
“Ketundukan itu bukan hanya di tempat sujudmu, ia harus mengiringi
rasa, fikir dan seribu keinginan lain. Ada bersama-sama semua itu adalah
ikhlas, rela dan pengertian untuk patuh kepada aturan Ilahi. Bukankah
kita ini adalah remah debu. Kau tahu, begitulah saat malaikat mendengar
sebarang firman. Sayap-sayap mereka patuh dan tunduk dan
gemerincingnya menyerupai….” Aliabbas terhenti di situ dan saya tahu
apakah ayat sambungannya.
Gemerincing.
“Nanti kau temukan kebebasan dan kekuatan, lalu Ilahi menuntun
langkahmu.” Dinding purba Shirvanshah menyerap getar parau Aliabbas.
Semasa saya bersimpuh di ruang solah Heydar Aliyev, lantai masjidnya
sudah meresap berlaksa permintaan. Dan kali ini giliran saya pula untuk
menyatakan pengharapan dan menitip doa buat Aliabbas, Tubukhanim
dan suami Madina alias Velizade. Saya minta ketundukan. Saya mohon
penyerahan.
Sebaik pesawat dilintasi sayap lebar itu, saya tidak tahu apa yang terjadi
lagi. Terakhir yang menguasai ruang langit ketika itu adalah gemerincing
yang nyaring namun kian tipis. Aliabbas menjinjit kotak pertukangannya.
Dia kini sudah melarut, meninggalkan wataknya dalam cerpen Talvar
atau Gazebo gubahan Elchin Ilyas oglu Afandiyev. Begitu juga pohon
mulberi bersama-sama serpihan dahan, daun dan kerinduan, mengapung
terbang. Barangkali corak buruj intertekstual ini menuju bulan penuh atau
terkait pada bucu bintang sebentar lagi, apabila langit mula berjelaga dan
semuanya semakin jauh dan menghilang.
*********************
9

