Page 10 - CEREKA_APM_Jan_Apr2025
P. 10
IZINKAN AKU BERPALING DARIMU
Asep Yudha Wirajaya
Universitas Sebelas Maret, Solo, Indonesia
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi aku belum ingin beranjak dari meja
kerjaku. Ada sesuatu yang mencoba menahanku untuk tetap terpekur. Ingatanku
melayang pada perjalanan nasibku tujuh tahun lalu. Dengan berbekal ijazah
sarjana kucoba melamar pekerjaan di suatu perusahaan distributor farmasi.
Setelah berhasil melewati tes tertulis akhirnya aku harus melakukan wawancara
dengan bagian personalia. Belum lagi wawancara itu dimulai ada satu pernyataan
yang membuatku tersudut.
“Maaf, ternyata anda berjilbab!”, demikian kata personalia dingin.
“Iya, Pak. Setelah lulus kuliah saya memutuskan memakai jilbab, dan saya yakin
telah melakukan hal yang benar.”
“Saya menghargai pendapat saudara. Tapi perlu anda tahu perusahaan ini milik
orang keturunan. Memang tidak ada peraturan tertulis yang melarang
karyawannya berjilbab, tapi selama ini belum pernah ada yang berbusana seperti
itu. Jadi maaf sebenarnya saya menilai kemampuan anda baik, tapi terus terang
saya tidak berani menerima anda untuk bekerja di sini. Saya minta Anda
memahami posisi saya, dan saya pikir masih banyak kesempatan Anda untuk
mencoba di tempat lain”, demikian personalia itu berbicara seolah tak mau tahu
bagaiman perasaanku saat itu.
Aku tak tahu harus menjawab apa saat itu. Aku hanya mampu tersenyum tipis
sembari menerima berkas-berkas lamaranku kembali. Hanya kata terima kasih
yang terlontar meski itu tak terucap dari lubuk hati. Aku pun sempat mengumpat
dalam hati mengapa di jaman ketika Hak Azazi Manusia digembar gemborkan
masih ada sebagian orang yang berpikir picik seperti itu. Untung aku tidak
bertanya pada Tuhan mengapa mengharuskan wanita-wanita muslim berjilbab, toh
dengan berpakaian sopan saja sudah menunjukkan bahwa wanita itu mempunyai
sopan santun yang baik. Ah, sudahlah aku hanya berdoa supaya bapak personalia
itu dibukakan pintu hatinya. Kalau memang aku tidak diterima saat ini, mungkin
kelak perusahaan itu bisa menerima karyawan yang berbusana muslimah.
Hampir dua bulan aku menganggur, entah sudah berapa surat lamaran kukirim tapi
tak satupun yang dipanggil. Namun, suatu ketika ada keajaiban. Aku dipanggil
menghadap pimpinan perusahaan distributor farmasi untuk wawancara.. Ya,
perusahaan itu yang telah menolakmu mentah-mentah dua bulan lalu.
“Kata personalia saya, dulu Anda pernah melamar di sini, namun tidak diterima
karena Anda berjilbab dan personalia saya tidak berani menerima Anda karena
saya warga keturunan dan berbeda keyakinan. Benar begitu?, tanya pimpinan
perusahaan itu seolah menguji keyakinanku kembali.
“Memang benar, Pak.Tapi saya bisa memahaminya. Saya pikir masih ada
pekerjaan lain yang tidak mempermasalahkan busana, yang penting karyawan
mampu bekerja dengan baik dan loyal terhadap perusahaan,” jawabku hati-hati.
Aku takut salah menjawab, yang malah merugikan aku sendiri.“Sudah berapa lama
Anda berjilbab dan mengapa Anda memutuskan untuk berjilbab?” tanya pimpinan
itu kembali
Sebenarnya aku heran dengan pertanyaan itu. Apa perlunya dia bertanya seperti
itu, lagipula ini wawancara kerja bukan diskusi soal keyakinan. Tapi, biarlah kuikuti
saja apa maunya. Mudah-mudahan Allah menuntunku menjawab sekalian
mengenalkan Islam padanya. Terserah dia setuju pendapatku atau tidak. Aku
berada pada posisi yang harus menjawab, mau tidak mau aku harus menjawab.

