Page 39 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 39
Privilese Yang Kelabu: Muthiara ‘Arsy (Sambungan 5)
Lantas, dia berada pada titik bertemu lelaki yang tidak
mengucapkan kata itu, melainkan berkata, “Kehadiran kamu membuatku
sadar bahwa kehidupan dunia itu bukan cuman dihadapi, tetapi ditemani
juga.” Cukup sweet, kan? Sayangnya, perkataan lelaki itu sangat anomali
dengan sikapnya.
Ungkapan dosen minggu lalu terngiang di kepalanya.
Baginya, kalimat itu berasal dari orang yang mudah insecure, orang yang
tidak mau improve dan upgrade diri untuk lebih baik sehingga yang bisa
dilakukan adalah berusaha menjatuhkan orang yang berada di atas daun.
Mereka adalah orang yang terperangkap di bubble-nya sendiri.
In her opinion, memiliki paras yang rupawan tidak mudah.
Tidak sedikit orang yang menjadikan rupa seseorang objek fantasi liar
orang-orang, padahal tidak pernah terbesit untuk merayu siapa pun.
Apabila tidak terima, maka akan dikomentari bahwa hal itu risiko memiliki
rupa yang good looking. Selain media yang membuat clickbait, mindset
tentang beauty privilege sudah tertanam telah lama.
Cantik itu menambah masalah hidup. Kalau boleh minta, Ara
tidak mau terlahir dengan paras yang indah.
“Buat apa aku cantik, tapi ngerasa nista?”
Ara menarik napas dalam-dalam. Jujur saja, dia merasa jijik
dengan dirinya apabila memutar memori lama tersebut.
Tidak ada yang bisa mengendalikan orang lain, maka diri
sendiri yang punya pegangan kendali. Sebab membeli lingkungan yang
sehat itu tidak murah.
Tajuk : Fragmen Jiwa I
Karya Ilustrasi : Sabzali Musa Kahn, APM-UM 2025
39

