Page 36 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 36
Privilese Yang Kelabu: Muthiara ‘Arsy (Sambungan 2)
Dua kelopak mata itu reseptif ketika kepalanya merasa berat
karena ingatan-ingatan lalu yang jijik.
“Kenapa inget itu lagi, sih?!” geramnya.
Salah satu penyebab dia meninggalkan tempat tinggalnya
adalah ingin meninggalkan pengalaman buruk, seperti mengubah nama
panggilan.
…
Langkah kecil itu menyusuri lorong sekolah untuk menjejakkan
kaki di kantin. Rambut pirangnya diikat satu. Setiap kali menoleh, kumpulan
rambut itu mengibas layaknya ekor kuda. Tidak lupa memakai topi merah
berlogo Tut Wuri Handayani untuk membalut kepalanya yang setiap hari dia
pakai.
“AWAS! AWAS!”
Dia sedikit menghindar supaya tidak seruduk oleh orang-orang
yang sedang main ucing-ucingan (kucing-kucingan atau kejar-kejaran).
“Geus ah cape. (Udah ah cape),” ucap anak laki-laki itu.
“Naon ah teu rame! (Apaan nggak seru!),” seru temannya.
Biasanya, mereka memilih ke kantin untuk membeli jajanan
apabila sudah lelah melakukan permainan.
Kekurangan ruang belajar menjadi salah satu perkara yang
menimbulkan sesi pagi dan sesi siang. Ada 6 ruangan di sekolah itu,
sedangkan ruangan yang dibutuhkan adalah 12 kelas karena setiap kelas
terbagi dua kelas, yaitu kelas A dan kelas B.
Bel berbunyi keras yang menandakan waktu sesi pagi sudah
berakhir dan kelas yang mendapat sesi siang harus segera siap-siap
berbaris di depan kelas.
Anak perempuan berambut pirang itu datang paling awal.
Tangan kanannya memegang bolu lapis varian vanilla. Tak lama kemudian,
gerombolan teman sekelasnya datang. Dia berdiri di barisan pertama.
Pintu kelas terbuka yang memunculkan anak-anak kelas 5.
Bertepatan dengan kepala yang menengok ke sebelah kanan, dia
merasakan sesuatu yang lembap sekaligus kenyal menyentuh permukaan
pipinya.
36

