Page 32 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 32

Menemukan Diriku di Jalanmu: Cut Mutiyah Pratiwi (sambungan 6)
                                MENEMUKAN DIRIKU DI JALANMU
                                             Cut Mutiyah Pratiwi
                      “Adik manis, ngapain main sembunyi-sembunyian.”


                      Suara laki-laki itu perlahan menjauh, sedangkan adira yang

       merasa bahwa laki-laki itu sudah jauh dari tempat persembunyiannya, ia
       perlahan keluar. Namun, baru saja ia berdiri, sudah ada tangan yang
       menarik dirinya.


                      “Tertangkap! Ternyata kamu disini adik manis.”


                      Adira gelagapan dan berusaha melepaskan dirinya.


                      “Tolong... tolong lepaskan saya! Kalau Mas mau ambil

       perhiasan saya gapapa, tapi tolong lepaskan saya.”


                      Adira berusaha membujuk, tetapi orang mabuk itu tak akan
       mengindahkan ucapan orang lain selain akal sehatnya yang telah
       terpengaruh oleh alkohol.


                      “Gue nggak butuh emas lu! Lu punya yang lebih berharga
                      daripada itu.”


                      Setelahnya, hal yang tidak diinginkan pun terjadi, ia kehilangan
       segalanya.



                      “Tolong!!!”


                      Teriakan itu menggema di udara yang sunyi senyap.


                      Kilasan memori itu mengudara bersama bacaan sholat. Namun
       saat ia bersujud, entah mengapa...ada sesuatu yang menyentuh relung
       hatinya. Seolah ada dzat yang tak terlihat mengatakan kepadanya bahwa

       ia tetap diterima untuk pulang dan berserah atas kemalangan yang
       menimpanya di dunia.


                      Pada bagian salam terakhir, ia menangis tersedu-sedu. Betapa
       terisi relung hatinya dengan ketenangan yang ia cari. Selama ini, dirinya
       telah hilang arah di antara amarah dan rasa kecewa.


                      Adira menadahkan kedua telapak tangannya.


                      Ya rabb, hamba pulang atas setiap kesulitan ini


                      Tiada kemalangan yang dapat hamba tangani seorang diri,

                      hamba sudah hilang arah


                      Hamba bahkan telah melupakanmu, terimalah hamba yang
                      penuh luka,


                      Yang telah berlumur dan bermandikan dosa ini karena tak
                      percaya atas bentuk kasihmu



                      Siang itu menjadi siang           yang penuh makna bagi Adira, ia
       melangkah untuk kembali percaya atas kehendak Sang Pencipta.
                                                                                                  32
       Sementara itu, Rania yang sedari tadi menyaksikan dengan mata yang
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37