Page 27 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 27

MENEMUKAN DIRIKU DI JALANMU

                                        Cut Mutiyah Pratiwi







       Suara detik jam mengisi atmosfer di antara dua manusia yang saling tatap
       di dalam ruangan serba putih itu. Tidak terlalu banyak hal yang dapat
       dilihat, tetapi bukan pertama kali ia berada di tempat ini.


                      “Sejauh mana yang kamu rasakan?” Ia memandang kliennya.



                      Namun, pena yang berada di tangannya tidak berhenti tuk
       menulis kata demi kata. Lawan bicaranya hanya mampu menundukkan
       kepala dengan derai air mata yang tak henti keluar dari sudut mata.


                      “Kosong.”


                      Tatkala ia mendengar itu, otomatis menghentikan gerakan
       pena, lalu mengalihkan pandangan ke arah wanita muda di hadapannya.


                      “Saya merasa kosong untuk kesekian kalinya, saya tidak
       merasakan bahwa Tuhan itu adil,” tuturnya yang terdengar nada putus

       asa.


                      “Jika Ia memang adil, mengapa saya yang harus merasakan
       semua kesakitan. Saya seperti ingin menemui ajal saja jika terus seperti
       ini. Jiwa saya sakit, tapi saya harus bersikap bahwa saya sehat di hadapan
       semua orang.”


                      Adira Calya, gadis muda berusia 19 tahun, terduduk dengan

       kepala tertunduk di sofa sudut ruang konseling. Jari-jemarinya saling
       bertaut, sesekali ia memberikan tekanan kuat, seolah ia ingin menjelaskan
       rasa sakit dan amarah yang ia miliki begitu besar terhadap dunia padanya.


                      Hidupnya berakhir di tempat yang tidak pernah ia pikirkan
       sebelumnya, yaitu rumah sakit jiwa. Luka-luka yang tumbuh sejak ia kecil,
       kini berubah menjadi sebuah jurang tak berdasar dalam dirinya. Ia
       menghabiskan sebagian besar hidup dengan kenangan buruk yang dibuat
       oleh orang-orang di sekitarnya, dan titik puncak kehidupan terjadi saat
       sang ibunda pulang ke pangkuan Tuhan untuk selama-lamanya.



                      Namun, semua itu belum seberapa dengan hal yang ia alami
       pada malam itu. Malam yang tidak hanya merenggut kesuciannya, tetapi
       juga merenggut kepercayaannya terhadap keberadaan Tuhan. Adira
       menatap lekat dengan pandangan yang kosong ke arah Rania, seorang
       psikolog muda yang telah mendampinginya sejak setahun terakhir.


                      “Saya hancur,” suaranya tercekat dengan air mata yang tak
       henti berderai.



                      “Saya kotor, bahkan saya tidak layak untuk hidup walaupun itu
       hanya sedetik.”
                                                                                                  27
                      “Lantas mengapa harus saya?”
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32