Page 22 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 22
Langgar Pojok: Imamah Fikriyati Azizah(sambungan 3)
Rapat keluarga itu terdengar oleh ketua takmir langgar Pojok.
Meski dituakan, ketua takmir hanyalah warga baru, seorang pendatang
yang dianggap mampu untuk berdiri di mimbar imam. Ia butuh kisah-kisah
lama dari para orang tua yang tersisa untuk mengetahui duduk
permasalahannya.
Asap telah terbawa angin. Ada api yang disulut. Sebelum jadi
kobar dan membakar hati yang lemah dan penuh keraguan, ia butuh data-
data untuk menganalisis keadaan yang dihadapi atau kelak akan dihadapi
para jemaah di langgar Pojok. Ia hanya merasa bertanggung jawab
sebagai yang dituakan.
Lalu bertemulah ketua takmir dengan Darwis, seorang
penabuh beduk yang dulu pernah ditegur oleh imam masjid langgar
Panggung. Meski kala itu masih terhitung muda, Darwis adalah salah
seorang saksi atas akar permasalahan dan musabab langgar Pojok
didirikan. Kisah yang panjang diceritakan oleh Darwis pada ketua takmir.
“Tanah langgar ini apa tidak ada sertifikatnya, Pak?”
5
“Kalau urusan sertifikat, mantan carik yang tahu.”
Mantan carik yang terkenal murah senyum meski tak banyak
bicara didatangi oleh ketua takmir. Sama halnya dengan Darwis, mantan
carik juga merupakan jemaah langgar Pojok, bahkan sejak langgar
Panggung. Namun tak disangka, mantan carik merasa terusik dengan
topik obrolan ketua takmir.
“Untuk apa kamu ingin tahu?” tanya mantan carik sinis.
“Markum sudah mengumpulkan keluarga besarnya, Pak.
Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, rasanya penting bagi
langgar untuk bersiap diri,” ketua takmir berusaha menegaskan situasi.
“Itu cerita lama yang tidak perlu digali,” mantan carik yang
berusia senja menentang upaya ketua takmir.
Percakapan itu terasa tegang. Sesuatu terasa seperti
disembunyikan. Apa yang terjadi kala para tetua mencari tanah untuk
mendirikan langgar? Benarkah tanah langgar ialah tanah wakaf yang
diberikan secara ikhlas? Apakah para tetua menyengaja mendirikan rumah
Allah di atas tanah keturunan Taqwim karena tujuan tertentu? Mengapa
mantan carik begitu enggan menuturkan cerita? Bukankah ia sama halnya
dengan Darwis yang menyaksikan kejadian saat itu? Mengapa seseorang
yang dipercaya oleh para tetua untuk ikut mengetengahi konflik saat itu
menolak bicara saat ini? Adakah kisah lain yang sengaja disembunyikan?
22

