Page 25 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 25
Di Tengah Puing: Bilqis Sima Victoria (sambungan 2)
Dengungan terdengar di telinga. Jarak antara ledakan yang begitu dekat
membuat telinga menjadi hampir tuli. Namun, dia tak terlalu memusingkan, sebab yang
terpenting saat ini adalah keberadaan putrinya. Memaksa sebagian tubuhnya yang
telah rusak, dia terus coba berjalan. Menyadari jalannya terasa lambat, dia tetap
memaksa diri untuk berlari walau turut membuat luka pada kakinya makin terasa nyeri.
Membuat luka pada kaki menjadi lebih menganga daripada sebelumnya. Namun dia
tidak peduli, tetap melanjutkan perjalanan dan terus berlari. Demi menemukan sang
putri yang tak jelas keberadaannya.
Mungkinkah dia masih hidup? Di mana dia sekarang?
Hanya itu yang menyertai. Pula, menjadi pendorong untuk mencapai
gadis kecilnya. Sosok yang telah dibesarkannya dengan penuh kasih di balik tebalnya
asap mesiu, yang selama ini berhasil dihindari.
Namun, sayangnya, kini tak dapat dihindari lagi.
Pria itu meringis begitu luka kecil di lutut kiri melebar. Luka itu
membuatnya terpaksa menyeret kaki kanan untuk mengejar waktu. Matahari sudah
menjadikan langit senja, dia harus menemukan putrinya segera.
Cepat!
Dia mempercepat langkah kaki. Terus melangkah. Paksa! Dia tetap
memaksa walau kaki telah berat untuk melangkah. Harus! Dia harus terus berlari!
Begitu mencapai tempat tinggalnya yang t'lah menjadi puing-puing,
jantungnya berdebar hendak menembus dada. Namun, dia coba kendalikan diri dan
meneriakkan sang putri.
"Putriku!"
Tak terdengar jawaban.
"Putriku! Di mana engkau?!" Seruannya tak diindahkan.
Napasnya makin memburu, berkecamuk kegelapan melahap diri.
"Putriku …."
Kakinya yang tak bisa lagi berdiri, menyerah. Air mata yang ditahan
semenjak melihat kematian yang dicinta pun tumpah.
Terlambat …, dia terlambat ….
Kini, lentera di tangannya jatuh. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya
untuk membangkitkan lentera tersebut ….
"Ayah!" Seruan dari sisi lain membuat telinga langsung bereaksi. Kepala
yang tertunduk langsung mendongak ke arah suara yang akrab.
Mulanya, dia anggap itu hanya khayalan sebelum suara itu terdengar lagi.
Kala itulah, angin berdesir memberi pesan: putrimu masih hidup!
Tanpa berbasa-basi, dia cepat berlari menuju arah suara. Dalam
perjalanan, meneriakkan panggilannya pula, menyahut sang putri. Sahutan dari
putrinya terdengar, menambah energi untuk maju tanpa rasa lelah. Di tengah
permukiman lapuk, dia melihat cahaya kecilnya dengan gembira. Lentera yang padam
pun, kembali menyala.
"Putriku!" Lekas dia mempercepat langkah untuk sang putri.
Putrinya ikut berlari menghampiri lelaki tegap itu. Memeluknya begitu erat seolah tak
25
pernah bertemu selama satu dekade.

