Page 26 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 26
Di Tengah Puing: Bilqis Sima Victoria (sambungan 3)
"Syukurlah engkau selamat," ujar sang ayah dalam dekapan.
Sayangnya, suasana haru itu rusak ketika korban lain berlarian dengan
panik. Dalam kepanikan, turut terdengar seruan riuh: mereka datang, cepat pergi, jangan
sampai mati. Seruan-seruan itu membuat sang ayah langsung menggendong putrinya.
Dalam dekapan dada, dia berlari membawa sang putri untuk kabur dari pasukan tentara
bersenjata. Sial, pergerakannya begitu lambat, dia bahkan tertinggal oleh teman-
temannya. Saat hendak memaksa untuk berlari, kakinya sudah tak dapat menahan.
Rasa perih menyiksa membuatnya tak bisa berjalan dengan baik. Namun, dia tetap
memaksa dan memilih berlari dengan lebih kencang. Sialnya, dalam pelarian diri penuh
luka itu, dia terguling. Kakinya yang telah menimbulkan luka lebih besar membuatnya sulit
untuk berdiri. Untungnya saja, salah satu orang yang mengenalnya berada di rombongan,
membantunya berdiri kala sadar bahwa pria itu dikenalnya.
"Tolong biarkan saya membantu Anda, Tuan Abbas." Dia langsung menopang
lengan pria tua itu di lehernya.
"Terima kasih, Tuan Aamir.”
Setelah itu, Aamir segera melanjutkan perjalanan dan berjalan dengan lebih cepat.
Dia sadar bahwa para tentara akan segera tiba. Walaupun merasa beban yang dibawa
berat, dia sama sekali tak mengeluhkan, justru malah memacu energi untuk lebih cepat
menyusul yang lain.
"Jangan khawatir, Tuan, sebentar lagi kita pasti akan menyusul yang lain,"
ucapnya tiap kali melihat rona keraguan di wajah Abbas.
Sialnya, suara tembakan yang makin dekat membuat Aamir ikut tahu bahwa
kemungkinan besar mereka akan terkejar. Namun, dia tetap optimis dan semakin
mempercepat langkah. Tak mungkin dia menyerah begitu saja, terlebih lagi kondisi dari
pria yang ditolongnya sudah tak berdaya sambil mendekap anaknya yang manis. Mana
mungkin dia akan membiarkan keduanya terpisah hanya demi keselamatan dirinya sendiri.
Abbas meringis, menatap lekat pada Aamir. “Tentara Israel itu terlalu, cepat, Tuan
Aamir, tinggalkan saja saya dan bawalah Aaliyah pergi!” desaknya.
Aamir memahami keinginan Abbas, tetapi dia tak bisa meninggalkan saudara satu
tanah airnya itu tergeletak di sini. “Tidak, Tuan Abbas, kita telah dekat dengan lokasi
aman, saya akan membawa Anda ke sana dengan selamat bersama Aaliyah.”
“Tidak, Tuan Aamir. Apabila Tuan memaksakan diri, maka kita semua akan mati!”
Napas Abbas tergesa-gesa, seolah tak kuat lagi menahan derasnya darah menembus
kulitnya. “Saya mohon, Tuan Aamir. Demi Aaliyah.”
Aamir tahu, dia tak bisa tinggal diam saja kini, terlebih lagi suara langkah dan
tembakan kian mendekat tempat persembunyian mereka. Dia menghela napas. “Saya
mengerti, Tuan Abbas.”
Terdengar rengek tangis dari Aaliyah, tetapi Aamir tidak memiliki pilihan lain,
Abbas benar, mereka semua tidak akan bisa selamat apabila melarikan diri bersamanya.
Meskipun begitu, masih terasa sesak karena mesti meninggalkan. Abbas di sana. Dia
membawa pergi Aaliyah yang terus merengek dan memanggil ayahnya, mengeratkan
anak perempuan itu pada tubuhnya sehingga tidak terlepas dan ikut bergabung dengan
sang ayah.
Sementara Abbas di sana hanya memandang anak gadisnya dan menyampaikan
senyuman kecil. Tangannya yang besar dan rapuh itu melambaikan perpisahan kepada
sang putri. Bibirnya bergetar menyampaikan sebuah pesan bersuarakan, “Hiduplah dalam
damai suatu saat nanti, berbulir air mengalir dari sungai milik kita.” bernada rendah
sehingga tak terdengar. Sembari kemudian bibirnya melantunkan pujian kepada Allah
SWT sebelum terhenti oleh peluru yang menembus dada.
Gugur di tengah puing-puing negeri.
26

