Page 31 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 31

Menemukan Diriku di Jalanmu: Cut Mutiyah Pratiwi (sambungan 5)
                                MENEMUKAN DIRIKU DI JALANMU
                                             Cut Mutiyah Pratiwi


                      Tak berselang lama, ia kembali dengan membawa sebuah tas
       berisi peralatan sholat yang lengkap. Isinya terdiri atas mukena, sajadah,
       tasbih, buku kumpulan doa dan dzikir. Dengan hati-hati, Rania

       menyerahkan tas itu kepada Adira.


                      Adira melihat benda yang ada di tangannya, terlihat masih
       baru. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Rania, sedikit ragu.


                      “Bu ... sepertinya ini semua masih baru. Memang tidak apa-apa
       kalau saya gunakan?” tanya Adira.


                      Rania kembali tersenyum tipis, “Itu memang masih baru dan
       memang saya siapkan untuk kamu.”


                      Adira tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya, peralatan ini

       benar-benar dipersiapkan untuk dirinya. Ada suatu kehangatan yang
       perlahan muncul di dadanya, perasaan diterima, dihargai, diperhatikan,
       dan tidak dianggap sebagai manusia yang kotor. Untuk pertama kalinya
       dalam waktu yang cukup lama, ia merasa dimanusiakan dan didekap erat.


                      Setelah dirinya berpamitan dengan Rania. Ia berjalan dengan
       mendekap tas itu, tubuhnya bergetar dan hatinya penuh keraguan.



                      Apakah langkahnya sudah tepat?


                      Apakah sholat orang yang kotor seperti aku ... dapat diterima
                      dengan penuh kasih oleh Sang pencipta?


                      Setibanya di kamar, ia menghela napas. Tanganya membuka
       satu persatu isi tas itu, lalu ia segera membentangkan sajadah ke arah
       kiblat. Mukena berwarna putih gading yang diberikan Rania tadi ia
       kenakan dengan gerakan perlahan. Ia tidak tahu seperti apa dirinya
       dengan balutan pakaian suci itu, ada perasaan tidak pantas. Namun, ia
       berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini langkah yang tepat.



       Allahu Akbar


                      Takbir pertama setelah sekian lama ia tidak mengucapkan itu
       dengan mulutnya, hatinya bergetar dan rasa hangat itu menyelinap di
       relung dadanya. Adira tidak begitu ingat dengan bacaan shalat, tetapi ia
       tetap melanjutkan setiap gerakan dengan tubuh yang bergetar hebat.


                      Memori menyakitkan itu hadir dihela bacaannya. Bagaimana

       jeritannya saat memohon pertolongan saat kemalangan itu menimpanya.


                      “Bunda … Adira takut.”


       Adira berlari mencari tempat persembunyian untuk menghindari kejaran
       laki-laki mabuk yang mengejarnya di gang sempit sewaktu pulang sekolah.
       Saat dirinya telah bersembunyi, ia mendengar derap langkah disekitar
       tempat persembunyiannya. Ia membekap mulutnya agar isakannya tak
       didengar oleh laki-laki itu.                                                               31
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36