Page 30 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 30

Menemukan Diriku di Jalanmu: Cut Mutiyah Pratiwi (sambungan 4)
                                MENEMUKAN DIRIKU DI JALANMU
                                             Cut Mutiyah Pratiwi
     melakukan gerakan mengambil air wudhu. Dari berkumur-kumur, membasuh
     wajah, membasuh kedua tangannya, hingga membasuh kedua kakinya.



                   Sesudah itu, Adira seperti tergerak untuk melakukan hal lain. Ia
     terus mencari-cari sesuatu, tetapi tidak kunjung ia temukan di ruang
     perawatannya. Akhirnya, Adira memilih keluar dan mencari seseorang yang
     dapat membantunya.


                   Menyusuri lorong perawatan, pandangannya menyapu tiap-tiap
     sudut dan berusaha untuk tidak melewatkan satu hal pun. Tak butuh waktu
     yang lama, ia akhirnya menemukan seseorang yang dirinya cari. Di depan

     ruangan laboratorium, ia melihat Rania yang sedang berbincang dengan
     rekan sejawatnya. Tanpa rasa ragu, Adira menghampirinya.


                   “Bu Rania!”


                   Merasa        terpanggil,      Rania       mengalihkan         pandangannya,
     sedangkan rekan sejawatnya memilih untuk berpamitan dan melanjutkan
     pekerjaan.


                   Rania tersenyum tipis, “Ada apa Adira, kenapa kamu berlari-larian
     di lorong?”



                   Adira ingin mengutarakan sesuatu, tetapi ia tampak ragu. Seolah
     tahu apa yang sedang dihadapi oleh Adira, Rania segera menggenggam
     tangannya.


                   “Tidak apa-apa, bilang saja Adira. Nanti saya bantu,” ucapnya
     seolah meyakinkan.


                   Mendengar itu, Adira mengembuskan napasnya perlahan, “Saya

     butuh sesuatu … tapi tidak ada di ruang perawatan. Mungkin ... Ibu punya?”


                   “Apa yang Adira butuhkan?”


                   Mendadak lidahnya kelu, seperti ada yang menahan dirinya untuk
     tidak mengatakan hal tersebut. Namun, dirinya mencoba keras untuk
     mengutarakan niatnya.


                   “Ehmm... saya butuh mukena dan sajadah, apa ... Ibu punya?”


                   Jeda.



                   “Jika ada, apa boleh saya pinjam sebentar?” ucapnya dengan
     nada penuh ragu.


                   Rania menepuk halus bahu Adira, seolah ingin menyalurkan rasa
     aman tanpa banyak kata.


                   “Tidak perlu khawatir, ini bukan suatu masalah,”ucapnya lembut.
                   “Tunggu disini sebentar, ya. Saya ambilkan dulu di dalam.” Rania

     beranjak menuju ruang laboratorium.
                                                                                                  30
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35