Page 28 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 28
Menemukan Diriku di Jalanmu: Cut Mutiyah Pratiwi (sambungan 2)
Kalimat-kalimat itu keluar dari lisan Adira kepada Rania,
psikolog yang menangani dirinya.
Rania hanya mampu terdiam. Ia tidak terburu-buru tuk
menjawab, mengingat tugasnya untuk membantu pasien agar dapat
meluruhkan semua bentuk emosi negatif yang ada. Rania tahu jelas,
bahwa setiap orang menanggung luka juga penderitaan yang tidak hanya
diselesaikan dengan sebuah petuah.
Bagi Rania, Adira adalah salah satu di antara banyaknya
pasien yang juga kehilangan kepercayaan terhadap keadilan Tuhan di
dalam hidup. Ia tidak bisa mengatakan mereka harus mendekatkan diri
kepada Tuhan atau meminta mereka untuk beribadah karena dirinya tidak
tahu apa yang akan terjadi saat kliennya mendengar itu.
“Apa yang kamu temui dari ketidakadilan itu? ”tanya Rania.
“Semua! Tuhan mengambil Bunda, Tuhan membiarkan orang
bejat itu merenggut kesucian saya. Tidak ada satupun yang Tuhan
lakukan, selain membuat saya menderita,” jawab Adira dengan batin
bergejolak marah.
Rania tercekat saat mendengar ucapan Adira.
Astagfirullahaladzim, hatinya bergemuruh. Ia tak henti mengucap istighfar
dalam diam, berulang-ulang berusaha menetralkan wajahnya saat
mendengar ucapan itu.
Dalam hatinya, ia bertanya: Entah pekerjaanku ini akan
menjadi amal jariyah atau justru menjerumuskanku ke dalam kubangan
dosa? Apakah aku akan terus membiarkan mereka tersesat lebih jauh,
atau sebenarnya aku sedang menuntun mereka untuk kembali.
Rania masih terdiam. Sesekali ia melirik ke arah catatan
mengenai kondisi Adira, bukan sebagai orang yang ahli mendiagnosis,
tetapi sebagai manusia yang juga pernah putus asa, yang juga pernah
bertanya tentang keadilan pada Tuhan. Ia tahu, luka sebesar itu tak bisa
disembuhkan dengan hanya sebuah kata-kata penenang. Namun, luka
juga tak akan pernah bisa kering jika dibiarkan terus bernanah tanpa arah.
Rania menghembuskan napas perlahan. “Adira,” ucapnya
lembut. “Apakah kamu masih mengingat bagaimana suara Bunda saat
marah?”
Adira menatapnya, sorot matanya penuh tanda tanya.
Mengapa pertanyaan itu muncul di tengah sesi konseling?
“Marah?” ulangnya lirih.
Rania mengangguk pelan tuk meyakinkan. “Bisa juga ... suara
saat Bunda sedih atau ketika ia khawatir karena kamu tak mengangkat
telepon setelah kamu pulang terlambat.”
28
Adira menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi kali
ini bukan karena marah, melainkan terlintas potongan memori-memori
mengenai dirinya dengan sang ibunda.

