Page 29 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 29
Menemukan Diriku di Jalanmu: Cut Mutiyah Pratiwi (sambungan 3)
MENEMUKAN DIRIKU DI JALANMU
“Suara Bunda, ya?” ujarnya pelan, ada sedikit penekanan dan
Cut Mutiyah Pratiwi
jeda dari jawabannya. “Bunda ... biasanya kalau marah tidak mengomel,
tapi Bunda memilih diam. Diamnya itu yang bikin aku takut.”
Rania tersenyum tipis. “Apakah dalam diamnya itu, kamu tahu
Bunda marah ... atau sebenarnya itu bentuk cintanya terhadap padamu?”
Adira kembali menunduk. Dadanya kembali penuh sesak.
Bukan karena kenangan menyakitkan, melainkan kerinduannya yang
teramat dalam.
“Iya,” suaranya nyaris tak terdengar.
Keduanya terdiam. Keheningan mendominasi ruangan
tersebut. Seolah keheningan itu kembali memberi jeda untuk Adira dan
Rania tuk sama-sama merenungi dan berpikir. Rania mencondongkan
tubuhnya sedikit lebih maju.
“Mungkin Tuhan tidak selalu berbicara, tapi bukan berarti
menjadikan ia tak lagi Maha Pengasih,”
“Bukan berarti ketika ia mengambil sesuatu yang berharga
dalam hidupmu, membuat-Nya kehilangan sifat Maha Penyayang. Ia
hanya mencintaimu dengan cara yang penuh kekhawatiran. Sama seperti
yang Bunda kamu lakukan saat itu, seperti itulah Tuhan.”
Adira tak mampu berkata banyak, tetapi sorot mata sendu dan
bulir bening yang membasahi pipinya menjadi tanda bahwa ia tertampar
oleh kalimat yang diucapkan Rania padanya. Kehadiran yang ia rasa pergi,
tetapi tak benar-benar pergi.
Setelah sesi kaunseling yang berlangsung selama satu jam.
Adira kembali ke ruang perawatannya. Sedari tadi ia hanya menatap
kekosongan tepat ke arah dinding hampa di hadapannya.
Bagaimana jika Bunda kecewa di atas sana?
Apa Bunda akan tenang jika melihat aku seperti ini?
Perlahan-lahan, bulir bening membasahi pipinya. Sedangkan
hati dan pikiran seolah menyerang, menghujam dengan pertanyaan yang
sulit ia temukan titik temunya. Sesaat ia termenung, di kesenyapan itu ia
mendengar kumandang adzan yang datang dari segala arah, seolah
memanggil tepat di kedua telinganya.
Sontak saja, ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil
yang berada tepat di atasnya. Ia melihat cahaya matahari masuk melalui
celah-celah besi dengan waktu cukup lama. Entah mengapa, cahaya
tersebut mengarah ke arah kamar mandi. Alih-alih memilih untuk
mengabaikannya, Adira malah melangkahkan kakinya untuk mengikuti
arah cahaya itu.
Setibanya di dalam kamar mandi, cahaya itu memantulkan kilau tepat ke
29
arah keran air. Adira sempat terpaku untuk beberapa saat, setelahnya ia
memilih untuk membasuh wajah. Bukannya membasuh wajah, Adira justru

