Page 24 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 24

DI TENGAH PUING

                                        Bilqis Sima Victoria





                   Suara keras terdengar begitu memekkakan telinga, juga menghancurkan
           puing-puing bangunan hingga kecil. Pecahan-pecahan itu terhambur dengan
           berbagai bentuk, kecil, besar, sedang, menimpa orang-orang tak beruntung yang
           tinggal di tanah situ. Usai ledakan, sayup-sayup terdengar tangisan dan teriakan
           bersahut-sahutan. Suara-suara yang terdengar menyedihkan itu membuat gadis
           kecil yang berada di tengah kerumunan penuh kehancuran berlarian sekuat
           tenaga. Walaupun dengan pakaian yang telah ternoda debu, abu, dan luka
           mengalir dari pipi.
                   Sepanjang berlari, dia merasakan dadanya bagai ingin pecah. Detakan
           terlalu kencang itu benar-benar membuatnya ketakutan. Bagaimana jika dia
           meledak? Bagaimana jika dia mati?
                   Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu membuatnya sedikit sulit
           untuk berkonsentrasi dan mencari apa yang kini diinginkannya. Karena itu, dia
           langsung menggeleng dan mencoba membuang pemikiran-pemikiran buruk.
           Benar, dia tak akan mati semudah itu. Setidaknya, sebelum menemukan ayahnya
           yang masih tak terlihat mata.
                   Tidak. Dia tak boleh mati. Ayahnya juga, dia juga harus tetap hidup.
                   “Ayah!” Teriakannya bergemuruh di tengah-tengah kerusuhan, tetapi sama
           sekali tak terdengar jawaban.
                   Dadanya kembali sesak. Pemikiran buruk pun ikut mengikuti masuk
           bersama udara dingin yang menjalar. Namun ,dia menggeleng kembali,
           meyakinkan diri bahwa ayahnya masih ada di sini.
                   Di tengah rasa sesak yang makin memenuhi dada, bersama dengan
           melawan segala pemikiran-pemikiran buruk, dia kembali berlari. Walau air mata
           pun mengalir secara tiba-tiba, terbawa oleh suasana yang makin hancur dan
           suara-suara tangisan-teriakan dari segala penjuru, dia tetap menyakininya.
                   Dia meyakini bahwa ayahnya masih hidup. Pasti!


                                                          ***
                   Kala kain menutupi tubuh kecil yang amat dicintanya, gadis kecil itu tak
           kuasa untuk memandangnya. Dengan erangan dan tangisan yang begitu kencang,
           dia memeluk sosok kokoh yang mungkin saja jauh lebih terpukul dibandingkannya.
           Air bersuhu hangat itu membuat basah pakaian sosok kokoh yang telah rapuh. Dia
           tak bisa menangis, hanya memandangi kain yang tengah ditandu beberapa orang
           sukarelawan dari negeri nan jauh. Bukan karena dia tak merasakan kesedihan, dia
           hanya tak bisa melakukannya, walaupun rasa sesak memenuhi rongga dada,
           membuatnya mulai kesulitan bernapas. Kepalanya sakit bagai dihantam tongkat
           bisbol. Namun, yang kini jauh menyedihkan adalah tangisan dari putri semata
           wayangnya.
                   Anak itu kecil, sangat kecil. Dia menyayangi ibunya, sama sepertinya yang
           juga sangat mencintainya. Dia terlalu dini untuk melihat ini. Dia terlalu dini untuk
           menangisi hal yang seharusnya tak perlu dialaminya kini. Dia bukanlah orang
           dewasa yang akan memaklumi kematian. Ya … dia terlalu kecil. Putri kecil yang
           malang hidupnya. Lalu, sebagai seorang pria, dia adalah sosok malang yang
           kehilangan belahan jiwanya.
                   Saat menggumamkan kata belahan jiwa, memori-memori lama secara tiba-
           tiba kembali terputar, membuat suasana biru di tengah merahnya langit menjadi
           makin menyesakkan. Segala kehangatan di tengah kehancuran rumah mereka,
           kini tak akan pernah lagi dirasakannya. Pembawa lentera itu telah dihancurkan
           oleh sosok yang diyakininya akan hilang dari muka bumi, menyisakan dia dan juga
           gadis kecilnya yang memerlukan lentera baru.
                   Sebuah lentera …. Dia memandang gadis yang masih tersedu di dadanya.
           Air mata membuatnya tenggelam dalam perasaan si gadis. Dia mengerti, gadis itu
           membutuhkn sosok lentera baru untuk memandunya dari kegelapan—sama
           seperti ibunya. Sudah diputuskan, mulai sekarang, dialah yang akan memegang
           lentera itu dan berjalan menuntun si putri kecil pada jalan harapan.


                                                          ***
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29