Page 37 - CEREKA_APM_Mei_Ogo2025
P. 37

Privilese Yang Kelabu: Muthiara ‘Arsy (Sambungan 3)





                       “Ey, Nana dicium Si Pepen!”


                       Pandangan gadis bernama Nana itu mengedar ke sekitar.
         Teman-temannya kaget, terlebih jantung Nana berdebar kencang mendapat
         serangan tiba-tiba. Ini bukan perasaan berbunga-bunga, tetapi terselimuti
         nista.


                       Dengan rasa malu yang melekat, dia berpindah posisi ke

         barisan paling belakang. Genangan air matanya memupuk di kelopak mata.
         Dia mengusap kasar pipi yang ternodai barusan. Satu kedipan berhasil
         meluruhkan butir-butir itu membasahi kedua pipinya.


                       “Si Nana kunaon? (Si Nana kenapa?).”


                       “A Pepen teh suka sama Nana, ya?”


                       Selama       jam     pelajaran       berlangsung,       dia     tidak    fokus

         memperhatikan materi yang diterangkan oleh guru. Dia mengusap air mata
         yang jatuh terus-menerus. Insiden 37 menit yang lalu masih terbayang di
         benaknya, bahkan sampai jam sekolah berakhir.


                       Nista yang membelenggunya belum reda juga, tetapi laki-laki
         kurang ajar tadi sudah berada di luar gerbang sekolah. Ini bukan kali
         pertamanya. Nana tahu bahwa laki-laki itu menyukainya, tetapi apakah
         harus seobsesi ini?


                       Untuk bisa lepas dari hal ini, dia harus berjalan ke belakang
         sekolah, kemudian melewati jalan setapak di sawah sehingga bisa tiba di

         rumahnya dengan selamat. Dia baru bisa bernapas lega ketika laki-laki itu
         lulus sekolah.


                                                      …


                       Masa putih-biru dapat dinikmati oleh Nana karena guru dan
         metode pembelajarannya. Kini, dia bersekolah di swasta berbasis agama
         Islam. Namun, hubungan pertemanan acap kali membuat gadis itu pilu.



                       “Pak, tugas minggu kemarin dikumpulin, nggak?” sela Nana
         yang menimbulkan decakan kesal dari teman-temannya.


                       “Tong caper lah. Rujit. (Jangan caper lah. Jijik),” kata seorang
         lelaki di kelas itu.


                       Nana tidak begitu menghiraukan.


                       “Oh, yang nulis hadits tentang larangan-larangan di masjid,
         kan?” tanya pria berusia 24 tahun itu.



                       Anggukan dari Nana sebagai konfirmasi.


                       “Makasih         sudah        mengingatkan.          Silakan,        tugasnya
                                                                                                  37
         dikumpulkan.”
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42